LO:
1.
Jelaskan
apa yang dimaksud vaksin serta jenisnya!
2.
Jelaskan
perbedaan mekanisme vaksin hidup dan vaksin mati!
3.
Bagaimana
mekanisme infeksi serta faktor-faktor yang mempengaruhi?
4.
Bagaimana
respon imun terhadap infeksi bakteri?
Vaksin
A. Pengertian Vaksin
Vaksin merupakan bibit penyakit yang sudah dilemahkan,
digunakan untuk vaksinasi.
Vaksinasi yaitu penanaman bibit penyakit yang sudah
dilemahkan ke dalam tubuh manusia atau hewan (dengan cara menggoreskan atau
menusukkan jarum) agar manusia atau hewan itu menjadi kebal terhadap penyakit tersebut
(Anonim1, 2011).
B. Jenis-jenis Vaksin
Vaksin dapat digolongkan berdasarkan antigen
yang terdapat di dalamnya:
ü
Live
Vaccine
Live vaccine berisi organisme yang sudah dilemahkan sehingga dikenal juga dengan sebutan attenuated live vaccine. Sebagai vaksin hidup, organisme di dalamnya masih dapat menimbulkan penyakit, tetapi lebih ringan dibandingkan dengan penyakit alaminya. Selain itu, vaksin ini bersifat labil dan dapat rusak bila terkena panas atau sinar. Respon imun terhadap vaksin adalah sama dengan yang diakibatkan oleh infeksi alamiah. Contohnya antara lain vaksin campak, vaksin gondongan, dan vaksin cacar air (Hanifah, 2011).
Live vaccine berisi organisme yang sudah dilemahkan sehingga dikenal juga dengan sebutan attenuated live vaccine. Sebagai vaksin hidup, organisme di dalamnya masih dapat menimbulkan penyakit, tetapi lebih ringan dibandingkan dengan penyakit alaminya. Selain itu, vaksin ini bersifat labil dan dapat rusak bila terkena panas atau sinar. Respon imun terhadap vaksin adalah sama dengan yang diakibatkan oleh infeksi alamiah. Contohnya antara lain vaksin campak, vaksin gondongan, dan vaksin cacar air (Hanifah, 2011).
ü
Inactivated
Vaccine
a. mengandung organisme mati yang masih utuh. Vaksin ini tidak dapat bereplikasi di dalam tubuh, sehingga seluruh dosis antigen dimasukkan dalam suntikan. Vaksin inaktivasi tidak dapat menyebabkan penyakit dan tidak dapat berubah menjadi bersifat patogenik. Contohnya polio, pertusis.
b. Vaksin dapat berisi toksoid atau toksin yang sudah diinaktivasi. Bahan tersebut akan merangsang pembentukan antibodi. Contoh tetanus, difteri (Anna, 2010).
a. mengandung organisme mati yang masih utuh. Vaksin ini tidak dapat bereplikasi di dalam tubuh, sehingga seluruh dosis antigen dimasukkan dalam suntikan. Vaksin inaktivasi tidak dapat menyebabkan penyakit dan tidak dapat berubah menjadi bersifat patogenik. Contohnya polio, pertusis.
b. Vaksin dapat berisi toksoid atau toksin yang sudah diinaktivasi. Bahan tersebut akan merangsang pembentukan antibodi. Contoh tetanus, difteri (Anna, 2010).
c.
Vaksin polisakarida adalah vaksin subunit yang terdiri dari molekul gula yang
membentuk kapsul bakteri. Contohnya dari bakteri pneumococcus .
d.
Vaksin konjugat, adalah vaksin polisakarida yang
dikonjugasikan dengan protein karier, sehingga dapat meningkatkan respons
imun (Firmansyah, 2011).
Kelebihan inactivated
vaccine antara lain tidak menyebabkan penyakit akibat pembalikan virulensi serta
mudah dalam penyimpanan. Kekurangannya antara lain perlu perhatian yang khusus
pada saat pembuatan untuk memastikan bahwa tidak tersisa bakteri virulen aktif
di dalam vaksin. Kekebalan berlangsung singkat, sehingga harus ditingkatkan
kembali dengan pengulangan vaksinasi yang mungkin menimbulkan reaksi-reaklsi
hipersensitifitas. Pemberian secara parenteral memberikan perlindungan yang
terbatas. Memerlukan ajuvan untuk meningkatkan antigenisitas yang efektif
(Hanifah, 2011).
Ajuvan
adalah zat yang secara nonspesifik dapat meningkatkan respons imun terhadap
antigen. Ajuvan akan meningkatkan respons imun dengan cara mempertahankan
antigen pada tempat suntikan, dan mengaktivasi sel APC untuk memproses antigen
secara efektif dan memproduksi interleukin yang akan mengaktifkan sel
imunokompeten lainnya (Anonim2, 2009).
Mekanisme Vaksin Hidup dan Vaksin Mati
Vaksin
hidup diperoleh dengan cara atenuasi. Tujuan atenuasi adalah untuk menghasilkan
organisme yang hanya dapat menimbulkan penyakit yang sangat ringan. Atenuasi
diperoleh dengan cara memodifikasi kondisi tempat tumbuh mikroorganisme,
misalnya suhu yang tinggi atau rendah, kondisi anaerob, atau menambah empedu
pada media kultur. Cara atenuasi yang sederhana terhadap bakteri adalah dengan
pemanasan bakteri sampai tepat di bawah titik kematian atau memaparkan bakteri
pada bahan kimia penginaktif sampai batas konsentrasi subletal, atau
menumbuhkan bakteri pada medium yang tidak cocok untuk pertumbuhannya. Cara
atenuasi terhadap virus adalah dengan membiakkan pada spesies yang tidak sesuai
untuk tumbuhnya atau memperpanjang masa pembiakannya di jaringan pembiak. Untuk
menimbulkan respon imun,attenuated live
vaccine harus dapat bereplikasi dalam tubuh resipien. Jadi, dosis kecil
organisme yang diberikan dalam vaksin dapat bertambah banyak dan memicu respon
imun.
Vaksin
mati dibuat dengan cara menggunakan bakteri atau virus yang sudah
diinaktifasi. Vaksin ini tidak dapat bereplikasi di dalam
tubuh, sehingga seluruh dosis antigen dimasukkan dalam suntikan. Vaksin
inaktivasi tidak dapat menyebabkan penyakit dan tidak dapat berubah menjadi
bersifat patogenik (Anonim2, 2009).
Infeksi
A.
Mekanisme Infeksi Bakteri
·
Bakteri
masuk ke dalam tubuh
·
Adhesi-Kolonisasi
(menempel-berbiak)
·
Invasi (menyebar
ke seluruh tubuh)
·
Kehidupan
intraseluler
·
Perusakan
organ/jaringan
1.
Organ
tempat masuknya bakteri
ü
Membran
mukosa
o Saluran pernafasan (paling sering)
o Saluran pencernaan: bakteri masuk melalui
air, makanan, jari kotor. Bakteri tahan terhadap asam lambung, enzim dan empedu
o Saluran kencing: penularan penyakit
seksual
o Konjungtiva: membran yg melapisi bola mata
ü
Kulit
menyerang
melalui folikel rambutdan kelenjar keringat
ü
Organ
dalam
Mikroba
dapat langsung beradhesi pada organ di bawah kulit atau membran mukosa melalui
rute parenteral. Misalnya: injeksi, gigitan, luka, sayatan, bedah.
2.
Adhesi
Adhesi merupakan proses penempelan bakteri
pada permukaan sel inang, pelekatan terjadi pada sel epitel. Adhesi bakteri ke
permukaan sel inang memerlukan protein adhesin. Adhesi dibagi menjadi 2:
·
Fimbrial
Merupakan struktur menyerupai rambut
yang terdapat pada permukaan sel bakteri yang tersusun atas protein yang
tersusun rapat dan memiliki bentuk silinder heliks. Fili bertindak sebagai
ligan dan berikatan dengan reseptor yang terdapat pada permukaan sel host. Fili
sering dikenal sebagai antigen kolonialisasi karena peranannya sebagai alat
penempelan pada sel lain. Contoh: Asam lipoteichoat menyebabkan pelekatan
strepcoccus pada sel buccal dan protein M sebagai antifagositik.
·
Afimbrial
Molekul adhesin afimbrial berupa protein
(polipeptida) dan polisakarida yg melekat pada membran sel bakteri. Polisakarida
yg berperan dalam sel adalah penyusun membran sel seperti: glikolipid,
glikoprotein, matriks ekstraseluler (fibronectin, collagen). Selain untuk
pelekatan yang membantu kolonisasi juga diperlukan untuk resistensi antibiotik.
3.
Invasi
Merupakan proses bakteri masuk ke dalam
sel inang/jaringan dan menyebar ke seluruh tubuh. Akses yang lebih mendalam
dari bakteri agar dapat memulai proses infeksi dibagi menjadi 2:
·
Invasi
ekstraseluler terjadi apabila mikroba merusak barrier jaringan untuk menyebar
ke dalam tubuh inang baik melalui peredaran darah maupun limfa.
·
Invasi
intraseluler terjadi apabila mikroba benar-benar berpenetrasi ke dalam sel
inang dan hidup di dalamnya.
Proses Invasi:
ü
Mikroba
menghasilkan enzim pendegradasi jaringan
Contoh:
•
Staphylococcus
aureus memproduksi beberapa
enzim untuk degradasi molekul sel inang seperti:
-
Hyaluronidase
–hidrolisis asam hialuronat (bahan dasar jaringan ikat)
-
Lipase—degradasi
lemak
-
Nuklease–
degradasi RNA dan DNA
-
Koagulase—pembentukan
benang fibrin di sekeliling bakteri sehingga mampu hidup dalam jaringan
•
Psedomonas
aeruginosa
Enzim elastase mendegradasi molekul
ekstraseluler yang berperan dalam pelekatan sel.
ü
Mikroba
menghasilkan protease IgA
Tubuh apabila kemasukan mikroba maka
akan dihasilkan antibodi (imunoglobulin/Ig). Imunoglobulin yang disekrasikan
adalah IgA pada permukaan mukosa. Ada 2 tipe IgA, yaitu: IgA1 dan IgA2. Bakteri
patogen mempunyai enzim protease yang akan memecah ikatan spesifik prolin-threonin atau prolin-serin pada IgA1,
sehingga IgA tidak aktif.
4.
Kehidupan
intraseluler
Setelah invasi, mikroba mampu bertahan
hidup dan berkembang biak dalam sel inang. Mikroba mampu hidup dalam 2 tipe sel
inang:
·
Non-fagositik
sel: sel epitel, sel endoteliat
·
Fagositik
sel: makrofag, neutrofil
Bakteri bertahan hidup pada sitosol,
vakuola makanan (lisosom). Bakteri dapat membunuh sel inang dengan cara:
·
Menurunkan
pH vakuola
·
Produksi
enzim protease (Setiawati, 2011).
B.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Infeksi
Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi infeksi:
1.
Agent (bakteri), yaitu
penyebab infeksinya, baik berupa agennya sendiri atau karena toksin yang
dilepas. Tingkat virulensi dipengaruhi oleh jumlah bakteri, jalur masuk ke
tubuh inang, mekanisme pertahanan inang, dan ketahanan bakteri terhadap
antibiotik.
2.
Host (pejamu, hewan),
yaitu hewan yang diinfeksi sesuai kebutuhan bakteri untuk dapat bertahan hidup
atau berkembang biak.
3.
Environment (lingkungan),
meliputi suhu, kelembapan, cahaya, oksigen.
Respon Imun Terhadap Infeksi Bakteri
·
Mikroba bakteri à masuk lewat fagosom à berkembang à fusi dengan lisosom à antigen diproses jadi fragmen kecil di fagolisosom
à di
RE terbentuk HLA à HLA ditranspor ke golgi à lalu ke fagolisosom àberikatan dengan
fragmen antigen à ke permukaan sel àdipresentasikan ke CD4 (Ramadhani, 2010).
·
Virus masuk à lewat endositosis à masuk ke sitoplasma àuncoating à tinggal protein
virus à
dipecah oleh proteasom à jadi fragmen kecil asam amino à ditransport ke RE
lewat TAP à
masuk ke RE à
diikat oleh HLA à ditransport ke golgi à ke permukaan sel à dipresentasikan ke
CD8 (Ramadhani, 2010).
1. Bakteri ekstraseluler
a. Netralisasi toksin
Antibodi yang beredar berperan pada netralisasi molekul antifagositik yang
larut dan eksotoksin yang dilepaskan bakteri. Pada bentuk kompleks dengan
antibodi, toksin tidak dapat secara cepat hilang dan karenanya menjadi rentan
terhadap fagositosis, terutama bila kompleks dapat diperbesar ukurannya dikarenakan aksi dari autoantibodi yang menghasilkan ikatan IgG
dan C3b (imunokonglutinin) (Roitt, 2003).
b. Opsonisasi bakteri
Opsonisasi merupakan suatu proses
di mana zat-zat asing dikelilingi dan dilekatkan pada imunoglobulin dan
komplemen, dengan efek memperkuat dan memperlancar fagositosisnya oleh makrofag
(Tjay dan Rahardja, 2007).
·
Opsonisasi tidak tergantung antibodi:
Protein pengikat manosa mengaktivkan C1r dan C1s yang juga berikatan
dengan reseptor C1q, ikatan ini yang menjdi opsonin yang memperantari
fagositosis. Serum pada protein yang berikatan dengan lipopolisakarida bakteri
untuk membuat kompleks yang melekat pada makrofag CD14 dalam jumlah yang sangat
sedikit untuk merangsang fagositosis TNF (Tumor Nekrosis Factor).
·
Opsonisasi yang ditingkatkan oleh antibodi:
Efek antibodi yang telah melakukan opsonisasi dan komplemen tehadap
kecepatan pembersihan bakteri virulen dari darah. Bakteri yang tidak terlapisi antibodi
difagositosis lebih lambat (imunitas bawaan) tetapi bakteri yang dilapisi
antibodi dan melekat pada fagosit berlipat jumlahnya (imunitas dapatan). Hal
ini terjadi karena adanya sinergisme antibodi dan komplemen pada proses
opsonisasi dengan perantara reseptor afinitas tinggi yang spesifik untuk IgG
dan C3b pada permukaan fagosit (Roitt, 2003).
2. Bakteri intraseluler
Imunitas spesifik yang dikendalikan sel T, karena dalam infeksi bakteri
intraseluler ini yang berperan utama adalah imunitas seluler, contohnya pada bentuk lepramatous reaksi sel T lemah terhadap basilus utuh dan
reaksi dermal lepromin lemah meskipun ditemukan banyak sel plasma sehingga
didapatkan antibodi dalam jumlah tinggi dan menunjukan aktivitas Th2
(Roitt, 2003).
Kemampuan membunuh mikroba yang hidup intraseluler hanya terjadi bila
sel dirangsang pada aktivasi tahap berikutnya oleh faktor yang mengaktifkan
makrofag seperti IFNγ yang dihasilkan oleh sel T penghasil limfokin.
Pelepasan limfokin yang terjadi kemudian mengaktifkan marofag dan memberikan
kemampuan mematikan organisme yang telah difagositosis. Fagosit
harus diaktivasi, sedikitnya oleh sitokin, agar dapat mengekspresikan satu atau
lebih di antara mediator-mediator tersebut untuk mengendalikan infeksi
intraseluler.
Berbagai
sitokin dan faktor-faktor terlarut yang dimediasi sitokin memegang peran
penting dalam mengendalikan atau membunuh patogen intraseluler oleh fagosit,
dalam pertahanan dini pejamu.
Makrofag
yang telah diaktivasi interferon membunuh Legionella pneumophila, antara
lain dengan cara meregulasi ke bawah (downregulate) reseptor
transferrin, sehingga menurunkan kemampuan zat besi dalam sel yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan Legionella spp. Efek listerisidal juga berkaitan
dengan kadar zat besi dalam makrofag.
Defensin,
protein yang bersifat antimikrobial (natural antimicrobial protein),
merupakan peptida kationik kecil dengan aktivitas anti-bakteri luas. Terdapat 2
kelas, α dan β, berperan dalam pertahanan tubuh antara lain dengan cara
mematahkan struktur atau fungsi membran sitoplasma mikroba. Biasanya defensin
diinduksi oleh sitokin dalam respons terhadap infeksi atau inflamasi,
interleukin-1β, interferon-γ, dan TNF-α. Defensin mempunyai aktivitas
antimikrobial pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhimurium,
Staphylococcus aureus, Yersinia enterocolitica, Candida albicans, jamur
serta virus bersampul (Roitt, 2003).
Referensi
Anna ,
Lusia Kus.2010.Jenis-jenis
Vaksin dalam http://health.kompas.com/index.php/read/2010/11/27/0704195/Jenisjenis.Vaksin
(diakses tanggal 28 Februari 2012)
Anonim1.2011.Vaksinasi dalam http://artikata.com/arti-356123-vaksinasi.html
(diakses tanggal 28 Februari 2012)
Anonim2.2009.Imunologi Imunisasi dalam http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/05/16/imunologi-imunisasi/
(diakses tanggal 28 Februari 2012)
Firmansyah, Adi .2011. http://www.imunisasidewasa.com/index.php?option=com_content&view=article&id=51%3Akonsensus-imunisasi-dewasa&catid=37%3Aumum&Itemid=56&limitstart=3
(diakses tanggal 28 Februari 2012)
Hanifah, Rizka.2011.Imunitas Aktif Vaksinasi dalam http://www.berbagimanfaat.com/2011/04/imunitas-aktif-vaksinasi.html
(diakses tanggal 28 Februari 2012)
Ramadhani, Avi.2010. Imunologi
Dasar dalam http://aviramadhani.blogspot.com/2010/05/imunologi-dasar.html (diakses tanggal 28
Februari 2012)
Roitt, Ivan.2003. Essential Immunology. Oxford: Blacwell
Science Limited
Setiawati, Agustina.2011.Mekanisme Patogenesis dalam
http://farmakonina.files.wordpress.com/2011/05/mekanisme-patogenesis-i.pptx
(diakses
tanggal 28 Februari 2012)
Tjay, Tan Hoan dan Rahardja, Kirana.2007.Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan dan
Efek-efek Sampingnya, edisi keenam.Jakarta: PT. Elex Media Komputindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar