LO:
1.
Apa saja
parasit darah? (beserta hospes, predileksi, dan gejala klinis)
2.
Bagaimana
mekanisme infeksi parasit darah?
3.
Bagaimana
respon imun terhadap parasit darah?
Macam-macam Parasit Darah
1.
Trypanosoma evansi
Predileksi:
darah, limpa, dan cairan serebrospinal
Hospes:
kuda, sapi dan kerbau.
Gejala
Klinis:
- Suhu badan naik, demam bersalng-seling, anemi, muka pucat
- Nafsu makan berkurang, sapi menjadi kurus dan berat badan menurun
- Penderita tak mampu bekerja karena letih
- Bulu rontok, kelihatan kotor, kering seperti sisik
- Terjadi gerakan berputar-putar tanpa arah, bila parasit ini menyerang otak atau syaraf (Girisonta, 1995)
2. Haemoproteus
columbae
Predileksi: sitoplasma eritrosit
Hospes: merpati
Gejala
Klinis: anemia,
kurang napsu makan,
sesak napas (Sugiharjo, 1985).
3.
Anaplasma marginale
Anaplasma marginale
Predileksi:
eritrosit
Hospes:
sapi
Vektor:
arthropoda dan insekta penghisap darah
Gejala
klinis: demam tinggi, anemia, ikterus (menguningnya jaringan kulit) setelah
parasit
ini berkembang biak dengan membelah diri dalam eritrosit (Rahayu, 1985).
4.
Theileria parva
Theileria parva
Theileria parva dapat berbentuk bulat, oval, koma seperti cincin,
tetapi pada umumnya berbentuk seperti batang.
Predileksi:
eritrosit, limfosit.
Hospes:
sapi.
Gejala klinis: demam tinggi, pembengkakan
limfonodus-limfonodus, oedema umum,
Ptechie.
5. Leucocytozoon
caulleryi
Predileksi:
eritrosit
Hospes:
ayam
Vektor:
Culicoides arakawai
Gejala
klinis: anemia, demam, lemah, kehilangan nafsu makan, tidak aktif, lumpuh,
muntah, haemorhagi (Partsoedjono, 2001).
6. Hepatozoon canis
Predileksi:
leukosit
Hospes:
anjing
Vektor:
Rhipicephalus
sanguineus
Gejala
klinis: demam, penurunan BB,
penurunan nafsu makan, discharge (lendir) hidung,
kelemahan otot,
anemia ringan dan diare berdarah.
7.
Plasmodium gallinaceum
Predileksi:
eritrosit
Hospes:
unggas
Gejala
klinis: lemah, lesu, pucat, produksi menurun, lumpuh
(penyumbatan stadium
eksoeritrosit
pada pembuluh kapiler otak, kematian 80% (Levine, 1990).
8. Babesia bigemina
Predileksi: eritrosit
Hospes:
sapi
Gejala klinis: hemoglobinuria, anemia, ikterus (Lestari, 2011).
Mekanisme Infeksi Parasit Darah
Pada Theileria parva, setelah caplak Boophilus sp. menginfeksi inang di mana
sporozoit dilepaskan melalui gigitan, sporozoit langsung menginfeksi leukosit.
Kemudian di dalam limfosit, sporozoit membesar dan intinya membelah
berulang-ulang sehingga membentuk skizon dengan banyak inti (makroskizon
agamon). Makroskizon ini melekat pada mikrotubuli limfosit dan membelah diri.
Selama itu, makroskizon melepaskan makromerozoit untuk menginfeksi monosit,
sehingga makromerozoit akan berubah menjadi makroskizon baru yang menyebar ke
seluruh tubuh. Setelah 2 minggu sejak makroskizon membelah secara mitosis, maka
akan ditemukan mikroskizon yang akan menghasilkan mikromerozoit di dalam
monosit. Mikromerozoit akan langsung menginfeksi eritrosit dan akan berubah
bentuk menjadi piroplasma yang akan menular kepada caplak lain yang menghisap
darah hospes terinfeksi. Infeksi pada caplak dimulai dari adanya perubahan bentuk
piroplasma menjadi mikrogamon, mikrogamet, zigot, dan kinet di dalam usus
caplak, dan kemudian ditemukan sporozoit dalam kelenjar ludahnya. Caplak yang
telah menghisap darah hospes yang terinfeksi akan ditemukan merozoit di dalam
ususnya. Dalam waktu 24 jam sebagian besar eritrosit akan hancur dan di dalam
usus ditemukan merozoit dalam berberapa bentuk yaitu bentuk bundar, koma, dan
bentuk kumparan. Selang waktu 24-48 jam, merozoit mengalami perubahan bentuk
menjadi seperti cincin, dengan sitoplasma bersifat basofilik. Dalam waktu 48-72
jam bentuk cincin berubah bentuk menjadi makrogamet, yang berbentuk bulat
lonjong. Makrogamet akan mengalami perubahan bentuk menjadi mikrogamet, berbentuk
seperti kumparan (Budiati, 2002).
Pada Plasmodium sp., sporozoit yang infektif tidak langsung masuk ke dalam
eritrosit, tetapi berkembang di luar eritrosit (bentuk eksoeritrositik) yaitu
di dalam sel endothel berkembang secara skizogoni membentuk skizon. Skizon yang
pecah akan membebaskan merozoit, bersamaan pecahnya sel induk semang. Merozoit ini
disebut metakriptozoit, kemudian merozoit yang berasal dari metakriptozoit
masuk ke dalam eritrosit dan sel lain dan selanjutnya menjadi bentuk skizon
eksoeritrositik. Siklus eritrositik terjadi 7-10 hari setelah infeksi oleh merozoit
dari metakriptozoit, tetapi waktu tersebut berbeda apabila infeksi oleh
merozoit dari skizon eksoeritrosit dari sel endothel maupun sel hematopoetik.
Di dalam eritrosit bentuk merozoit berubah menjadi bentuk tropozoit, yang
mempunyai bentuk bundar berisi vakuola yang besar mendesak sitoplasma parasit. Bentuk
tropozoit mengalami proses skizogoni menghasilkan merozoit.
Setelah regenerasi
aseksual, maka merozoit mengalami perkembangbiakan seksual dengan pembentukan
mikrogametosit dan makrogametosit, kedua gamet mengadakan fertilisasi menjadi
bentuk zigot. Perkembangan gametosit terjadi bila darah termakan oleh nyamuk.
Perkembangan di dalam tubuh nyamuk berlangsung cepat, dalam waktu 10-15 menit,
inti dari mikrogamet sudah membelah dan mengalami proses eksflagellasi,
bentuknya panjang dan tebal, kemudian membuahi makrogamet. Hasil pembuahan
mikrogamet oleh makrogamet berupa zigot. Zigot yang terbentuk disebut ookinet, selanjutnya
mengadakan penetrasi ke mukosa midgut
kemudian tinggal di permukaan lambung.
Inti ookinet akan membelah dan menghasilkan sejumlah besar sporozoit. Pematangan
ookinet pada umumnya di glandula saliva. Bentuk ini infektif pada induk semang
yang baru.
Berbeda
dengan Plasmodium, skizogoni dari genus Haemoproteus tidak terjadi di sel-sel
darah perifer, tetapi pada sel endotel dari organ dalam. Di darah perifer hanya
bentuk gametosit. Gametosit terjadi pada eritrosit, berbentuk seperti halter
dan tampak mengelilingi inti sel induk semang. Skizogoni terjadi pada sel
endothel dari pembuluh darah khususnya paru-paru. Perkembangan seksual dan sporogoni juga
terjadi pada insekta penghisap darah. Parasit ditularkan melalui lalat Hippobosca, Pseudolyncia canariensis.
Respon Imun terhadap Parasit Darah
Ketika ada parasit memasuki tubuh, maka
parasit difagosit oleh makrofag, dibawa ke limfosit B, limfosit B berubah
menjadi plasma sel, menghasilkan antibodi Ig E. IgE bersama dengan antigen
menempel pada esoinofil. Interaksi antara sel eosinofil, sel makrofag dan
antigen parasit menyebabkan antigen-antigen asing lebih mudah dipresentasikan
oleh sel makrofag ke sel-sel limfosit-T maupun sel limfosit-B.
Antibodi serum ditujukan terhadap antigen
permukaan protozoa, dapat melakukan opsonisasi, aglutinasi, dan membatasi
pergerakan protozoa. Antibodi bersama-sama dnegan komplemen dan sel sitotoksik
dapat membunuh protozoa dan sebagian antibodi (disebut ablastin) dapat
menghambat enzim protozoa sedemikian rupa sehingga replikasinya dicegah. Reaksi
lokal hipersensitivitas tipe I yang terjadi, tidak hanya mengganggu tetapi juga
menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga antibodi IgG
dapat keluar mencapai daerah infeksi untuk kemudian membatasi, menangkap, dan
menghilangkan organisme tersebut.
Antibodi bersama dengan komplemen
dapat menghilangkan organisme yang terdapat bebas dalam cairan tubuh dan dengan
demikian mengurangi penyebaran organisme di antara sel, tetapi pengaruhnya
hanya sedikit atau bahkan tidak sama sekali untuk parasit intraselular.
Organisme intraselular ini dihancurkan melalui respon imun berperantara sel.
Limfosit T yang telah disensitisasi melepaskan limfokin sebagai respon terhadap
ribonukleoprotein dalam toksoplasma. Limfokin ini dapat bereaksi pada makrofag,
mula-mula membuatnya tahan terhadap efek letak terhadap toksoplasma dan kedua
membantu makrofag membunuh organisme intraselular dengan menghilangkan hambatan
pada fusi lisosom dan fagosom. Di samping itu sel T sitotoksik dapat juga
menghancurkan takhizoit toksoplasma dan sel yang tertulari toksoplasma.
Interferon aktif terhadap toksoplasma karena kemampuannya untuk mengaktivasi
makrofag dan merangsang sel sitotoksik (Tizard, 1982).
Referensi
Budiati, Anik Eko.2002.Prevalensi Parasit Darah (Babesia sp. dan
Theileria sp.) pada Ternak Sapi Rakyat di Lima Kecamatan, Kab. Lampung Tengah.Bogor:IPB
Girisonta., 1995. Petunjuk
Praktis Beternak Sapi Perah.Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Lestari, Kiki Sri.2011.Makalah Protozoa Darah dan Jaringan
dalam http://kiki-sri.blogspot.com/2011/11/makalah-protozoa-darah-dan-jaringan.html (diakses tanggal 6 Maret 2012)
Levine N D. 1990. Parasitologi Veteriner.Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
Mijayanto, Dwi Nur.2011.Parasitologi dalam http://www.docstoc.com/docs/101453419/PARASITOLOGI
(diakses tanggal 6 Maret 2012)
Partsoedjono, Soetiyono.2001. Penyakit-penyakit Parasit Unggas di Indonesia dalam http://siauwlielie.tripod.com/art_001_02.htm (diakses tanggal 6 Maret 2012)
Rahayu, Purminta.1985.Patologi dari Penyakit-penyakit Protozoa
dalam Eritrosit (Anaplasmosis, Babesiosis, dan Theileriosis) pada Sapi.Bogor:
IPB
Sugiharjo, Andryani.1985. Pengaruh
Infeksi Haemoproteus columbae pada Burung Merpati dan Cara
Penanggulangannya.Bogor: FKH IPB
Tizard, Ian. 1982. Pengantar Imunologi Veteriner. Philadelphia: W.B. Saunders Company